![]() |
beritasurabayanet – beritajatim (Bojonegoro) : Kurang lebih 120 siswa SDN Ngraseh dan siswa TK Dharma Wanita, Desa Ngraseh, Kecamatan Dander, Kabupaten Bojonegoro, belakangan ini resah dengan keberadaan sekolah mereka.
Bahkan, karena lahan tempatnya belajar saat ini tengah dikuasai ahli waris pemilik lahan, para siswa harus rela belajar di rumah milik warga dengan kondisi seadanya.
Pantauan beritajatim.com, Kamis (15/10/2009) menyebutkan, para siswa ini terpaksa belajar secara terpisah di enam rumah warga. Sebab, lokal sekolah sudah tidak bisa digunakan lagi.
Karena memang sementara atau hanya darurat, ruang belajar juga ala kadarnya. Sehingga, hal itu membuat para siswa sangat tidak nyaman. Persoalan muncul dari lokal kelas darurat itu, salah satunya adakah lokal gelap dan cukup pengap. Bahkan, komunikasi antar siswa menjadi ada jarak dan itu yang cukup dikeluhkan.
Sementara itu, ditengah lilitan persoalan, para guru secara bergantian mengurus siswa dan mengurus persoalan ke Dinas Pendidikan. Sedangkan guru yang masih tersisa, harus berbagi mengajar di dua kelas yang jaraknya terpisah antar rumah warga yang lumayan jauh.
Salah seorang guru kelas 6, Erlina menerangkan, diritnya setelah selesai memberi materi pelajaran di kelas 6, maka akan segera beranjak ke kelas 5. “Kegiatan seperti ini kami lakukan sejak sekolah berpindah ke perkampungan warga,” katanya.
Ditegaskan, pihaknya terpaksa berbagi tugas, karena memang pendidikan tidak boleh berhenti dan kegiatan belajar mengajar harus tetap berjalan.
“Para guru yang lain tengah mengurus persoalan ini ke Dinas Pendidikan dan mengurusi pembangunan sekolah yang baru,” tambahnya.
Seorang siswa kelas 5, Elfa mengaku tidak nyaman dengan belajar pada saat ini. Sebab, kelasnya cukup panas dan sempit. Sehingga, belajar tidak bisa maksimal.
Terpisah, beberapa warga setempat menegaskan, sekolah tersebut sudah berdiri sejak 47 tahun lalu. Karena proses tukar guling yang diduga tidak disertai akta, maka ahli waris pemilik lahan tersebut masih merasa sebagai pemilik yang syah.
Sehingga, pihak sekolah pun tidak bisa berbuat banyak ketika ahli waris tersebut meminta agar lahan tersebut segera dikosongkan. “Pemilik lahan sudah menawarkan agar pihak sekolah membeli dengan harga Rp 130.000 per meter persegi,” tegas warga. (Red.)
DIarsipkan di bawah: Berita Lintas Jawa Timur








