Nasib Penjual Gambang Tak Seindah Suaranya

beritasurabayanet beritajatim : Nasib tak menentu dialami para penjual gambang kelilling di Kabupaten Tuban. Apa yang mereka hasilkan tak tak seindah dengan suara gambang yang dijiualnya.

Siang itu, Rabu (21/7/2010) panas matahari cukup menyengat ubun-ubun. Hawa panas datang begitu saja. Ditengah teriknya matahari di Bumi Ronggolawe tersebut, tak menyurutkan langkah Raswono (32) penjual gambang keliling di Tuban.

Ia tetap saja tampak duduk disamping gambang yang dijual kepada anak-anak. Dirinya sengaja mangkal di depan Taman Kanak-Kanak (TK) di Jl Pramuka Kota Tuban.

Walaupun belum ada yang laku, ia tetap saja setia menunggu dan membunyikan gambang secara perlahan-lahan. Satu dua anak bergegas datang, namun hanya sekadar untuk melihat-lihat saja.

Seperti diketahui, jika gambang ada salah satu sebutan perangkat gamelan mini buatan manusia dan banyak diproduksi di wilayah Kabupaten Pati, Jawa Tengah.

Memang benar, Raswono datang jauh-jauh dari Pati bersama dengan beberapa temannya untuk menjual gambang dan mencari peruntungan di Kota Tuak.

” Kami semuanya berlima dari Pati dan berjualan gambang keliling di Tuban ,” katanya sambil mengusap peluh yang mulai membasahi mukanya.

Menurutnya, ia sudah hampir tiga minggu berkeliling Kota Tuban. Setiap sudut jalan, dan di keramaian, ia selalu berhenti dan menawarkan gambang yang dijualnya.

” Walaupun banyak yang tertarik, ternyata mereka juga tidak mau membelinya ,” lanjut Raswono, kepada beritajatim.com.

Ia menjelaskan dengan sedikit detail mengenai barang langkan di Tuban yang dijualnya. Menurutnya, saat ini perangkat gamelan mini yang diperjualbelikannya itu sudah mulai langsung di Tuban.

” Anak-anak mulai tidak mengenal lagi dengan jenis alat tersebut. Anak -anak sekarang kebayakan lebih menyukai dengan alat-alat musik modern ,” jelasnya.

Sedang gambang yang terbuat dari kayu dan lempengan besi yang ditempal itu, tak begitu lagi menjadi daya minat anak-anak. ” Mungkin saja mereka bingung dengan apa yang kami jual, namun kami tidak ada putus asa ,” terangnya.

Hal senada dijelaskan oleh teman Raswono yang bernama Imam Turmudi (29). Ia berjualan setiap sore di Alun-alun Kota Tuban. ” Pagi sampai siang, biasaya kami keliling di Kecamatan Pelumpang dan sebagian Semanding ,” sambungnya.

Ditempat tersebut, ia mengaku mendapatkan pelaris dari masyarakat yang rata-rata masih mengenal gambang. Walaupun tidak terlalu banyak, tetapi cukup untuk biaya makan dan hidup di Tuban.

Menurutnya, lima orang membagi sasaran jualan. Sebab, selain di Kecamatan Plumpang, wilayah yang sudah mereka susuri adalah Kecamatan Merakurak, Kecamatan Kota Tuban, Palang, Rengel, Jenu, dan Semanding. Mereka menjajakan gambang rata-rata kepada anak-anak TK dan SD.

Menurut Imam, setiap hari ia harus memikul gambang dan berjalan kaki. Rata-rata ia membawa 15 hingga 20 unit gambang yang harganya terjangkau dan bervariasi. Mulai Rp 5.000 hingga Rp 45.000 per unit, sesuai besar kecilnya gambang.

” Semua ini kami beli di Pati, tepatnya pada pengepul gambang. Sudah lama kami berjualan seperti ini, mulai dari Kabupaten Blora, Bojonegoro dan Nganjuk ,” terangnya.

Menurutnya, mereka mengaku terpaksa melakukan pekerjaan ini karena tak memiliki pekerjaan yang lebih layak lagi. ” Yang penting bisa dipakai makan mas ,” tegasnya. (Red.)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: